Kemarahan adalah keadaan dimana lidah bekerja lebih cepat daripada pikiran, dan tindakan lebih cepat dari nurani. ". (ABDUL QAYYUM:1992) PENGEN LIHAT PROFIL LENGKAPKU CLIK DISINI
  • .

Minggu, 19 Juni 2011

Tradisi Maulid Maudu Lompoa di Desa Cikoang Laikang


Tradisi Maulid Maudu Lompoa di Desa Cikoang Laikang
REBUTAN KAIN & MAKANAN AGAR DAPAT BERKAH


KLIK - Detail Angin laut berembus kencang di sepanjang muara Sungai Cikoang, Desa Cikoang Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu silam (8/5). Sinar keemasan matahari pagi menerobos dedaunan pohon lontar yang tumbuh subur di desa pinggir laut berjarak dua jam perjalanan dari Kota Makassar itu.

Perahu-perahu kayu nan besar (Lambere Japing-Japing) tertambat rapi di muara sungai. Yang sangat menarik, puluhan transportasi air tradisional itu dihiasi layar kain warna-warni. Berbagai sesaji pun memenuhi tubuh perahu. Sebuah bakul raksasa dari anyaman daun lontar (Baku' Maudu) yang berisi nasi setengah matang, ratusan ekor ayam goreng, buah kelapa, kue-kue tradisional, bunga-bunga kertas, tikar daun pandan, serta ribuan telur bersusun yang dicat merah putih dan ditusuk dengan bambu.
KLIK - Detail
Selemparan batu dari situ, terbentang perkampungan rumah panggung nan elok. Kesibukan luar biasa terjadi di sana. Di depan tiap-tiap rumah, berdiri kokoh rangka perahu hias berkaki (Julung-Julung) dan tempat sesaji dari kayu berbentuk segi empat berkaki (Kandawari).

Kaum lelaki, baik tua maupun muda, berlomba-lomba menghias diiringi tetabuhan gandrang, gong, dan pa'kacaping (gitar kecil dari kayu). Sementara kaum perempuan bersolek cantik mengenakan sarung-sarung tradisional.

KLIK - Detail BEREBUT SESAJI BERKAH
Saat matahari mulai menyengat terik di ujung kepala, ribuan penduduk dari seantero desa tumpah ruah memadati dua buah baruga (pendopo panggung) yang sengaja didirikan di pusat desa. Bak rombongan pawai, mereka datang menjunjung bakul-bakul saji, mengarak julung-julung dan kandawari untuk ditaruh di depan baruga.

Bersamaan dengan itu tetabuhan gandrang pun semakin keras menggema. Disambut dengan untaian zikir hikmat dari para tetua dan pemangku adat di desa. Usai doa-doa selesai dipanjatkan sebagai tanda terima kasih pada Sang Khalik, pesta pun dilanjutkan dengan penuh suka cita.

KLIK - Detail Puluhan anak laki-laki dan perempuan berlarian untuk menceburkan diri ke sungai. Beberapa orang tua di desa pun tak luput dalam pesta pora ini. Mereka diarak untuk terjun ke sungai. Konon, ritual siram-siraman ini dipercaya masyarakat sebagai tanda buang sial dan membersihkan diri dari dosa. Ada pula beberapa lomba tradisional seperti lepa-lepa (dayung), tangkap itik dan pergelaran tarian khas Takalar, tunrung pakanjara.

Menjelang sore, puncak ritual yang ditunggu-tunggu pun tiba. Walau sempat diguyur hujan lebat, dengan iringan lantunan salawat, perahu-perahu besar dilarung ke laut.
Selanjutnya, Julung-Julung dan Kandawari langsung diserbu ribuan masyarakat yang sejak pagi menunggu.

Tak pandang bulu, mereka yang banyak berdatangan dari desa-desa lain berteriak-teriak, berebutan naik untuk mengambil kain dan makanan. Bahkan ada yang sengaja membawa karung. Penduduk desa percaya barang siapa yang memakan sesaji itu akan mendapat berkah. Namun, sesaji itu tidak boleh dimakan sendiri oleh pembuatnya.

KLIK - Detail Julung-Julung yang paling laris adalah milik pemangku adat desa, S. Karaeng Lolo (47). Perahu bercat biru putih dan penuh ukiran ini konon berumur lebih dari seratus tahun. Di sisi belakangnya terdapat tulisan Hajjong Piddaraini , yang artinya manusia hidup untuk dunia dan akhirat.

Usai acara, julung-julung yang berisi sesajian paling banyak ini bersih, tanpa bersisa satu pun hiasan.

PROSESI 40 HARI
Kemeriahan perayaan yang namanya Maudu Lompoa itu diselenggarakan masyarakat setahun sekali, dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Konon, tradisi turun-temurun ini telah dilaksanakan semenjak tahun 1621. Tradisi ini berawal dari ritual yang dilakoni oleh Sayyid Djalaluddin, penyebar agama Islam di muara Sungai Cikoang.

KLIK - Detail "Maudu dilakukan sebagai rasa cinta pada Nabi Muhammad SAW. Pernah suatu kala, Desa Cikoang dilanda kemiskinan dan kelaparan, berpakaian compang-camping dan memakan umbi pisang, tetapi penduduk tetap merayakan Maudu," ungkap Karaeng Lolo.

Jangan bayangkan ritual Maudu Lompoa hanya berlangsung sederhana dan selesai dalam sehari. Empat puluh hari sebelumnya prosesi ini sudah harus dimulai. Pertama, prosesi mandi seluruh penduduk yang dipimpin guru adat (A'je'ne-je'ne'Sappara). Dilanjutkan dengan upacara menangkap dan mengurung ayam. "Ayam yang dipakai untuk sesaji Maudu tidak boleh sembarang. Harus dikurung 40 hari di tempat yang bersih dan diberi makan beras bagus," imbuh Karaeng Lolo.

Ada juga prosesi Angnganang Baku, yaitu membuat bakul sesaji dari daun lontar. Lalu acara menjemur padi dalam lingkaran pagar dan menumbuknya dengan lesung (A'dengka Ase), serta mengupas kelapa utuh yang ditanam sendiri (Ammisa' Kalulu). Dua hari sebelum hari H, diadakan upacara potong ayam dan menghias telur. Kaum wanita pun mulai memasak beras setengah matang, ayam goreng dan kue menggunakan kayu bakar.

KLIK - Detail "Masak harus dilakukan di dalam ra'bbang (bagian bawah rumah panggung), tidak boleh keluar pagar. Perempuan harus memakai sarung dalam keadaan bersih dan mengambil air wudu. Beras pun dicuci tujuh kali dan air cuciannya ditampung dalam lubang yang sengaja dibuat dalam ra'bbang," tutur Santi, penduduk Cikoang yang merantau ke Samarinda dan selalu pulang saat Maudu.

Banyaknya isi bakul tergantung jumlah keluarga tiap rumah. Wajibnya, satu orang harus dipotongkan satu ayam dan dimasakkan empat gantang (liter) beras. Untuk telur, jumlahnya bisa mencapai ribuan. Tak heran ritual ini memakan biaya yang sangat besar hingga jutaan rupiah.

KLIK - Detail Semua simbol ini juga bukan tanpa makna. "Bakul yang dianyam dari daun lontar menggambarkan tubuh manusia teranyam oleh lebih dari 4 ribu saraf. Empat gantang beras adalah syariat Islam, bagaikan jumlah bulu yang melekat pada tubuh manusia. Ayam berarti pembelajaran (tharikat) akan waktu. Kelapa yang memiliki 7 lapis kulit perlambang hakikat mata hati. Telur berarti keyakinan (makrifat). Perahu bagaikan kendaraan menuju bahtera berkah. Kain bagai tempat bernaung saat manusia berada di padang mahsyar nanti," jelas Karaeng Lolo.

Tak terasa hari mulai gelap. Maudu Lompoa ke-384 berlalu diiringi ucapan rasa syukur. Masyarakat pun berduyun-duyun pulang, membawa berkah masing-masing di tangan.

Tidak ada komentar: